Rabu, 21 Desember 2011

PERJUANGAN SEORANG PEREMPUAN YANG MENJADI PENYULUH


PERJUANGAN SEORANG PEREMPUAN YANG MENJADI PENYULUH
I.   PENDAHULUAN
Penyuluhan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang yang satu oleh karena keahliannya membantu orang lain untuk mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Orang yang member bantuan itu disebut penyuluh, dan yang diberi bantuan disebut klien. Dalam keseluruhan upaya bantuan yang dilakukan melalui pelayanan bimbingan dan penyuluhan, penyuluhan itu sendiri merupakan inti daripada bimbingan dan penyuluhan. Dan sering juga dikatakan bahwa penyuluhan itu alat daripada bimbingan. Dengan kata lain, bimbingan itu diberikan melalui penyuluhan. Dengan demikian, keberhasilan bimbingan banyak ditentukan bagaimana penyuluhan itu dilakukan. Untuk dapat melakukan penyuluhan secara lebih terarah, penyuluh dituntut untuk benar-benar menguasai pengetahuan dan ketrampilan melaksanakan penyuluhan.[1]
Sebagaimana yang tercantum dalam keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan Dan Pendayagunaan Aparatur Negara. Nomor: 54/KEP/MK.WASPAN/9/1999. Penyuluh Agama adalah Peawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa agama. Yang dimaksud dengan penyuluh Agama adalah suatu kegiatan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan nasional.[2]

II.   LATAR BELAKANG
Farida usriyyah, S.Ag. Adalah staf penyuluhan islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Mijen Semarang, beliau  lahir di Kudus pada tanggal 4 September 1973, beliau tinggal di Jl. Kumala 223 Perum Intan Semarang. Masa kecil beliau habiskan di kudus. Program Sarjana (S-1) beliau selesaikan di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang Pada tahun 1997. Selama menjadi mahasiswa beliau aktif dalam organisasi dan pernah menjabat sebagai Sekretaris dan bendahara HMJ BPA atau sekarang menjadi BPI. Sekarang beliau juga masih aktif menjadi sekretaris dalam Majlis Ta’lim ANNUR. Perum Intan. Disamping itu juga menjadi Seksi Penyuluh/ Seksi Kerohanian Islam Majlis Ta’lim SAKINAH. Sebagai seorang penyuluh, beliau pernah praktik di LAPAS perempuan Bulu, dan Panti WREDA

III.   TITIK BALIK
Sebagai seorang penyuluh ibu farida  sangat semangat dan energik menjalankan semua tugas dan tanggung jawabnya. Ibu farida mulai menjadi honorer pada tahun 2004 dan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipl (PNS) pada tahun 2009. Setiap hari ibu farida harus bolak-balik dari LARER(Lapas Perempuan)Bulu-Panti WREDA-KUA mijen,dan harus memenuhi 7 jam menyuluh. Bila kurang biasanya ibu farida melengkapinya dengan mengisi di majlis ta’lim atau TPQ yang ada disekitar pemukimanya .Disamping itu ibu farida harus menjalankan peranya sebagai ibu rumah tangga dan mengurusi anak-anaknya .Peran ibu farida sebagai penyuluh wanita dapat dukungan penuh dari keluarga terutama oleh suaminya ,karena suami ibu farida sendiri juga sebagai penyuluh . Nama suami ibu farida bapak Ricky wasito Sag, ibu farida tetep menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga,untuk masalah rumah tangganya ibu farida membagi tugasnya dengan sang suami,untuk masalah bersih-bersih rumah seringnya dilakukan oleh pembantunya dan untuk memasak di pegang oleh ibu farida sendiri,dan yang paling unik dalam keluarga ibu farida ialah bahwa untuk masalah mencuci pakean selalu dikerjakan oleh suaminya dan selama ibu farida menikah tidak pernah menyuci pakean karna selalu di kerjakan oleh suaminya dari pengantin baru. Itulah kebiasan-kebiasan yang di lakukan dalam rumah tangga ibu farida .Ibu farida juga pernah dapat komentar dari ke dua anaknya,anak yang pertama yang bernama Anis Frisky Fithah sekarang mau kelas 1 MTS,dan anak ke dua yang bernama Shofi Shofiana Jiyad sekarang kelas 4 SD, mereka pernah berkomentar bahwa ibunya sering keluar terus ,tapi setelah ibu farida memberi pengertian kepada kedua anaknya akhirnya mereka mengerti.  Hubungan ibu farida dengan tetangga juga baik,walaupun dulu pada awal iu farida menjadi penyuluh para tetangga tahunya ibu farida menjadi CALO pengantin atau mencari orang yang mau menikah ,itulah awal tanggapan para tetangga atau masyarakat tentang pekerjaan ibu farida,tapi ibu farida cuek dengan apa tanggapan para tetangga,cueknya ibu farida bukan berarti tidak mau ambil pusing. Ibu farida mencoba menjelaskan tentang pekerjaanya kepada para tetangga dengan cara ibu farida menghadiri majlis ta’lm An-Nur yang ada di sekitar rumahnya atau mengajar,disitulah sedikit demi sedikit ibu farida menjelaskan kepada masyarakat tentang pekerjan ibu farida dan mulai saat itu tetangga mulai mengerti apa arti penyuluh itu. Untuk jadwal ibu farida sendiri selain di KUA mijen ibu farida juga mempunyai jadwal di tempat lain seperti di Resosialisasi Argo Rejo dan di Marji Utomo  .

IV.   KEGIATAN PENYULUH AGAMA

Dalam kegiatan penyuluh agama ada beberapa metode dan teknik dalam proses penyuluhan.
A. Sasaran penyuluh agama.
Sasaran penyuluh agama adalah umat islam dan masyarakat yang belum menganut salah satu agama  di Indonesia yang beraneka ragam dan latar belakang pendidikanya. Dilihat dari segi tipe masyarakat yang ada di Indonesia dalam garis besarnya dalam tipe golongan yaitu masyarakat pedesaa dan perkotaan  dan masyarakat cendikiyawan. Namun dilihat dari segi kelompokmasyarakat tersebut bermacam-macam kelompok baik yang ada di desa maupun di kota, bahkan ada beberapa kelompok selain terdapat di desa terdapat pula di kota.[3]
Adapun kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi sasaran penyuluh antara lain sebagai berikut:
1. Generasi Muda
Penyuluhan agama bagi generasi muda meliputi kelompok-kelompok anak-anak, remaja, dan pemuda. Penyuluhan agama kepada mereka sangat penting karena merekalah yang akan melanjutkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan Undang-Undan Dasar (UUD) 1945.
Generasi muda adalah tumpuan harapan untuk melanjutkan pembangunan dengan ciri khasnya, terdapat diberbagai lapisan masyarakat dan secara demografis merupakan jumlah yang terbanyak dari penduduk Indonesia. Menurut kuran lahiriah umur mereka lebih panjang, potensial, fisik dan pikirannya masih lebih besar dan mempunyai sifat reseptif terhadap pengaruh dari luar. Selain dari itu peranannya masih lebih besar pula disbanding dengan generasi tua.
2.Kelompok Orang Tua
Penyuluhan agama bagi orang tua dimaksudkan untuk lebih meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran beragama serta pengamalannya. Sebab sesuai dengan peranannya sebagai pemimpin rumah tangga, maka keberagamaan mereka akan mempunyai dampak positifbaik kepada anak-anaknya maupun kepada generasi muda pada umumnya. 
Adapun yang dimaksut kelompok orang tua adalah laki-laki dewasa pada umumnya yang hidup diberbagai  lingkungan masyarakat, baik di pedesaan maupun diperkotaan
3.Kelompok Wanita
Penyuluh agama kepada kelompok wanita adalah untuk meningkatkan ilmu agama dan kesadaran beragama serta pengamalannya. Dan sebab peranaan wanita selain sangat penting dalam rumah tangga, di dalam masyarakatpun  semakin meningkat. Dengan demikian sasaran penyuluh agama tidak saja kepada ibu rumah tangga tetapi juga terhadap wanita karir, baik yang bergabung dalam berbagai organisasi wanita maupun wanita dewasa pada umumnya.[4]
4.Kompleks Perumahan
Yang dimaksud dengan perumahan disini adalah Komplek Perumnas, komplek perumahan karyawan baik instansi pemerintah maupun swasta. Sasarnya adalah baik karyawan itu sendiri maupun keluarganya. Penyuluh agama kepada mereka adalah untuk meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran beragama serta pengamalanya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian diharapkan terciptanya suasana keagamaan dan kehidupan yang harmonis baik dirumah tangga masing-masing maupun dilingkungan kompleknya.
5.Asrama
Penyuluhan agama kepada warga asrama berusaha menanamkan gairah hidup berdasarkan kepada kesadaran dan penghayatan agama agar terbina suasana yang baik dilingkungannya. Penghuni asrama terdiri dari berbagai macam-macam, seperti asrama lansia, ataupun lembaga permasyarakatan lainnya.
6.Majlis Ta’lim
Majlis Ta’lim selalu mendapat perhatian dari masyarakat luas. Oleh karena itu penyuluh agama melalui majlis ta’lm ini sangat efektif.
Majlis Ta’lim atau pengajian mempunyai peranan penting dalam pembinaan masyarakat. Mungkin pesertanya hanya terdiri dari beberapa orang atau bersifat masal. Namun demikian penyuluh agama berpesan melalui majlis ta’lim ini akan mempunyai dampak yang benar dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat.[5]

B.  Kendala-Kendala Penyuluhan
1. Kendala internal penyuluhan
Kendala-kendala yang muncul dalam setiap aktifitas-aktifitas penyuluhan sering kali menjadikan kegagalan atau ketidak berhasilan penyuluhan-penyuluhan yang dilaksanakan. Dengan diidentifikasinya kendala-kendala yang muncul, maka dapat diantisipasi sedini mungkin kendala-kendala tersebut.
2. Kendala Pada Masyarakat
Sebagaimana komunikasi yang terjadi, yakni bahwa dalam menyampaikan pesan ada target atau khalayak sasaran yang memang menjadi focus atau prioritas. Meskipun sebenarnya pesan yang disampaikan adalah untuk seluruh masyarakat. Hal ini dikatakan oleh Wiriaatmaja (1983:44), pada dasarnya usaha peningkatan kematangan masyarakat untuk menerima teknologi baru yang lebih menguntungkan itu harus ditunjukan kepada seluruh masyarakat, tidak peduli yang ada di mana-mana (secara horizontal) maupun yang ada di segala lapisan (secar vertikal).

3. Metode Penyuluhan

Metode adalah cara sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan. Setiap orang “belajar” melalui cara yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dalam menangkap pesan yang diterimanya, ada yang cukup dengfan mendengar saja, ataubmelihat dan juga ada yang harus mempraktikkan kemudian merealisasikannya.
Namun di lain pihak, penggunaan kombinasi dari berbagai metode penyuluhan akan banyak membantu mempercepat proses perubahan. Penelitiha menunjukan bahwa lebih banyak metode penyuluhan yang akan digunakan, akan lebih banyak perubahan yang terjadi dalam diri individu. Kombinasi penggunaanmetode komunikasi(baca: penyuluhan) juga dilakukan pada “kelompen camper”. Dalam operasional di lapangan, kelompen caper menggunakan berbagai cara/ metode komunikasi yaitu metode komunikasi banyak tahap (multi stepof communitication) yaitu arus komunikasi mengalir dari media massa kepada pemuka masyarakat secara “tatap muka” disalurkan kepada anggota kelompancapir melalui diskusi-diskusi kelompok tentang topic dibahas olehmedia massa, dan selanjutnya disebarkan kepada khalayak secara bersilang dan menyeluruh.[6]
Metode komunikasi seperti ini dimanfaatkan sebagai strategi untuk mempercepat perubahan dalam proses pembaruhan seperti yang dilakukan oleh All India Radio. All India Radio berhasil melakukan ekspereman dengan beberapa strategi komunikasi, menggunakan saluran-saluran tradisonal maupun mars media. Penggunaan komunikasi antar pribadi maupun peragaan metode telah berhasil mengubah sikap dan mengajarkan beberapa teknik ( lihat Depari dan Mc Andrew, dalam peranan komunikasi masa dalam Pembangunan  1978).
Meminjam pendapat Mounder dalam Suriatna (1987) menggolongkan metode penyuluhan menjadi 3 (tiga) golongan berdasarkan jumlah sasaran yang dapat dicapai:
a.       Metode berdasarkan pendekatan perseorangan
Dalam metode ini, penyuluh berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan.
b.      Metode berdasarkan pendekatan kelompok
Dal;am hal ini, penyuluh berhubungan dengan sekelompok orang untuk menyampaikan pesannya.[7]
c.       Metode berdasarkan pendekatan massa
Metode ini dapat menjangkau sasaran yang lebih luas (massa), sedangkan para ahli yang lain menggolongkan metode berdasarkan teknik komunikasi dan berdasarkan indra penerimaan sasaran. Berdasarkan teknik komunikasi, metode penyuluhan dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1)   Metode penyuluhan langsung. Artinya, para petugas penyuluhan, langsung bertatap muka dengan sasaran.
2)   Metode penyuluhan tidak langsung. Dalam hal ini pesan yang disampaikan tidak secara langsung dilakukan oleh penyuluh tetapi dilakukan melalui perantara atau media.
Adapun penggologan metode berdasarkan indera penerima dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
a)   Metode yang dilaksanakan dengan jalan memperhatikan.
b)   Metode yang disampaikan dengan melalui indera pendengaran.
c)   Metode yang disampaikan diterima oleh sasaran melalui beberapa macam indera secara kombinasi.
4.   Teknik-Teknik  penyuluhan
              Istilah teknik berasal dari bahasa yunani “tecknikos”kepribadian atau keterampilan. Keberhasilan dalam suatu aktivitas penyuluhan sangata tergantung kepadda teknik penyuluhan yang digunakan oleh komunikator. Mengenai teknik komunikasi, Effendy (1986) mengatakan bahwa teknik komunikasi yang bisa dilakukan pada umumnya ada 3 yaitu:
a.    Teknik komunikasi Informatif.
         Adalah proses penyampean pesan yang sifatnya “memberi penjelasan kepada orang lain  kpomunikasi ini dapat dilakukan secara lesan maupun tertulis, misalnya melalui papan pengumuman, pertemuan –pertemuan kelompok juga media massa, karena sifatnya informative, maka arus penyuluan yang terjadi adalahsearah (one way communication).
b.   Teknik komunikatif secara persuasi.
Istilah “persuasi” atau dalam bahasa inggris “persuation” berasal kata latin persuasion, yang terjadi secara harfiahberarti hal membujuk, hal mengajak atau meyakinkan. Unsur-unsur dalam persuasi mengandung:
1)   Situasi upaya mempengaruhi.
2)   Koknisi, seseorang.
3)   Untuk mengubah sikap khalayak.
4)   Melalui pesan lisan dan tertulis.
5)   Dan dilakukan secara sadar.
 Dengan demikian, maka persuasi merupakan suatu tindakan psikologis yang dilakukan secara sadar melalui media untuk tujuan perubahan sikap.
c.    Tenik komunikasi koersif,
Adalah proses penyampean pesan dari seseorang kepada orang lain dengan cara mengandung paksaan agar melakukan suatu tindakan atau kegiatan tertentu. Komunikasi ini dapat dilakukan dalm bentuk putusan-putusan, instruksi dan lain-lain yang sifatnya imperative,yang artinya mengandung keharusan dan kewajiban untuk di taati dan di lakukan.[8]

V.   KESIMPULAN
Perjuangan seorang perempuan yang menjadi penyuluh agama sangatlah berat apalagi harus menjalani kewajibannya sebagai Ibu rumah tangga. Banyak hambatan yang menghadangnya tetapi dengan niat tulus dan ihlas karena Allah SWT halangan yang ada bagai sirna diterjang hidayah dari Allah SWT.

VI.   PENUTUP
 Demikian Laporan yang dapat kami paparkan tentang  Perjuangan seorang perempuan yang menjadi penyuluh. Semoga bermanfa’at. Dan tentunya laporan ini tidak terlepas dari kesalahan, kekurangan, dan kekeliruan. Oleh karena itu penulis memohon kritik dan saran yang membangun guna perbaikan laporan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amti  Erman, Penyuluhan, Jakarta:  Halia Indonesia, 1983

DEPARTEMEN AGAMA RI,  Materi Bimbingan dan Penyuluhan, , Jakarta: Derektorat  Jendral  Kelembagaan  Agama  Islam, 2003

Suprapto Tommy dkk, Komunikasi Penyuluhan, Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2004

Walgito Bimo, Bimbingan Dan Konseling, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004




[1] Erman Amti, Penyuluhan, hal:7
[2] DEPAG RI,  Materi Bimbingan dan Penyuluhan, hal:9
[3] DEPAG RI, Materi Bimbingan dan Penyuluhan, hal:41
[4] Ibid, hal: 46
[5] Ibid, hal. 59
[6] Tommy Suprapto dkk, Komunikasi Penyuluhan, hal. 81-82
[7] Ibid, hal. 83-84
[8] Ibid, hal. 88-94

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar