Jumat, 02 November 2012

GANGGUAN-GANGGUAN KEPRIBADIAN (Narsistik dan Histrionik)



GANGGUAN-GANGGUAN KEPRIBADIAN
(Narsistik dan Histrionik)
       I.            PENDAHULUAN
Dalam istilah awam, kepribadian sering disamakanatau digunakan secara bergantian  dengan istilah watak atau karakter dan tempramen, padahal masing-masing berbeda. Watak adalah aspek sosial dari kepribadian manusia, sedangkan tempramen adalah aspek badaniah dari kepribadian. Masin-masing hanyalah salah satu aspek kepribadian, disamping aspek-aspek yang lain vitalitas, hasrat, perasaan, kehendak bakat, intelegensi, dan yang lainnya. Pada umumnya seseorang terganggu kepribadiannya apabila satu atau lebih kepribadiannya telah menjadi sedemikian rupa sehingga merugikan dirinya atau lingkungannya.
Gangguan kepribadian adalah suetu proses perkembangan yang timbul pada mas anak-anak, remaja, dan berlanjut pada mas dewasa. Keadaan ini merupaka pola prilaku yang tertanam dalam dan berlangsung lama, muncul sebagai respon yang kaku terhadap tantangan situasi pribadi dan sosial yang luas.[1]


    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Epidomologi, Diagnosis, Gambaran Teknik dan Terapi Gangguan Kepribadian Narsistik
B.     Epidomologi, Diagnosis, Gambaran Teknik dan Terapi Gangguan Kepribadian Histrionik

 III.            PEMBAHASAN
A.    Epidomologi, Diagnosis, Gambaran Teknik dan Terapi Gangguan Kepribadian Narsistik
Gangguan Narsistik Mempunyai pandangan yang berlebihan tentang kemampuan dan keunikan diri sendiri. Mereka asyik dengan fantasi mereka tentang kesuksesan dan kebutuhan akan kekaguman dan perhatian dari orang lain. Pola ini dimulai pada awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks. Adapun ciri gangguan ini antara lain sebagai berikut:
1.      Memiliki rsa kemegahan diri (misalnya, melebih-lebihkan prestasi dan bakat, mengharap untuk diakui sebagai superior).
2.      Sibuk dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta yang ideal.
3.      Percaya bahwa dia adalah “istimewa”, unik, dan hanya dapat dipahami oleh, atau harus bergaul dengan orang-orang khusus atau high status lainnya.
4.      Membutuhkan kekaguman berlebihan.
5.      Memiliki harapan tidak masuk akal atau pemenuhan harapan secara otomatis.
6.      Memanfaatkan hubungan interpersonal, yakni mengambil keuntungan dari orang lain untuk mencapai tujuan sendiri.
7.      Tidak memiliki empati.
8.      Sering iri kepada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya.
9.      Menunjukkan arogansi atau sifat sombong.
Individu dengan gangguan ini akan bermasalah dengan hubungan interpersonalnya, karna sifat sombong dan tidak memiliki empati. Dalam pekerjaan mungkin mereka sukses dengan ambisi dan kepercayaan diri mereka yang tinggi. Namun mereka tidak dapat bertahan dalam lingkungan yang kompetitif. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan kalah.[2]
Terapi kognitif diarahkan pada usaha mengganti fantasi mereka dengan focus pada pengalaman sehari-hari yang menyenangkan. Strategi coping seperti latihan relaksasi digunakan untuk membantu mereka menghadapi dan menerima kritik. Membantu memfokuskan perasaan mereka terhadap orang lain juga menjadi tujuannya.[3]

B.     Epidomologi, Diagnosis, Gambaran Teknik dan Terapi Gangguan Kepribadian Histrionik
Gangguan kepribadian histrionic digunakan untuk individu yang terlalu dramatis (mengekspresikan hal emosional secara berlebihan) dan selalu menarik perhatian kepada dirinya sendiri. Pola ini dimulai pada awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks. Adapun ciri gangguan ini antara lain sebagai berikut:
1.      Individu dengan gangguan ini tidak nyaman atau merasa tidak dihargai ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian.
2.      Penampilan dan perilaku mereka sering melakukan profokasi secara seksual yang tidak tepat (menggoda).
3.      Ekspresi emosional yang dangkal dan cepat berubah.
4.      Secara konsisten menggunakan penampilanfisik untuk menarik perhatian kepada diri mereka sendiri.
5.      Individu ini memiliki gaya bicara yang impresionistik dan kurang rinci.
6.      Individu dengan gangguan ini ditandai dengan dramatisasi diri, sandiwara, dan ekspresi berlebihan dari emosi.
7.      Memiliki tingkat sugestifitas yang tinggi.
8.      Menganggap hubungannya lebih intim dari realianya.
Individu dengan gangguan ini akan memiliki kesulitan dalam keintima berhubungan. Terkadang mereka berusaha menguasai pasangannya dengan manipulasi emosional, namun dalam keadaan lain mereka sangat bergantung pada pasangannya. Mereka menuntut untuk diperhatikan secara konstan. Mereka sering mengalami depresi dan marah ketika mereka bukan pusat perhatian ataupun dalam situasi yang membuat kepuasannya tertunda.
Sebagian besar terapi yang digunakan difokuskan pada hubungan interpersonalnya yang bermasalah. Mereka perlu ditunjukkan bagaimana hasil jangka pendek dari gaya interaksi semacam itu dapat menimbulkan pengorbanan jangka panjang. Mereka juga perlu diajari tentang cara-cara yang lebih baik untuk menegosiasikan keinginan dan kebutuhannya.[4]



 IV.            KESIMPULAN
Gangguan Narsistik Mempunyai pandangan yang berlebihan tentang kemampuan dan keunikan diri sendiri. Mereka asyik dengan fantasi mereka tentang kesuksesan dan kebutuhan akan kekaguman dan perhatian dari orang lain.
Gangguan kepribadian histrionik digunakan untuk individu yang terlalu dramatis (mengekspresikan hal emosional secara berlebihan) dan selalu menarik perhatian kepada dirinya sendiri.

    V.            PENUTUP
            Demikian makalah yang dapat kami paparkan tentang Gangguan Kepribadian. Semoga bermanfa’at. Dan tentunya makalah ini tidak terlepas dari kesalahan, kekurangan, dan kekeliruan. Oleh karena itu penulis memohon kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAHA
Baihaki Mif  dkk, Psikiatri Konsep Dasar dan Gangguan, Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.
Durand Mark dan  Barlow David, Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
S. Nevid Jeffrey, dkk. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga. 2003.


[1] Drs. Mif Baihaki dkk, Psikiatri Konsep Dasar dan Gangguan, Bandung: PT. Refika Aditama, 2007, hal: 132-133
[2] Jeffrey S. Nevid, dkk. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga. 2003. Hal 273
[3] V. Mark Durand dan David H. Barlow . Intisari Psikologi Abnormal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. Hal 212

[4] Ibid. Hal: 211

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar